Case Study

Berikut beberapa Case Study hasil kerja peserta pelatihan program Bermutu

SOAL CERITA MENYULITKAN

Oleh : Muhammat Mahmud

Pagi itu tepatnya pada hari Selasa matahari begitu cerah menyinari halaman dan bangunan SD negeri Slateng 01 yang terletak di dusun Kopang Desa Slateng Kecamatan Ledokombo. Murid-murid SD Negeri Slateng 01 begitu bersemangat melangkahkan kaki sambil lari-lari kecil menuju ke kelas masing-masing meletakkan tas tempat buku mereka di bangkunya.

Di kelas V sebagian anak sedang menyapu lantai, menghapus papan tulis, dan membersihkan jendela, anak-anak tersebut adalah anak yang pada hari itu mendapat giliran piket kelas.

Jam 06.45 bel berbunyi tanda masuk kelas dan pelajaran akan segera dimulai. Anak-anak berlari ke halaman sekolah membentuk barisan menurut kelas masing-masing. Anak kelas V membentuk barisan menjadi tiga baris, ketua kelas segera memberi aba-aba dan satu persatu anak-anak masuk kelas.

Pelajaran pada hari itu ada tiga mata pelajaran, yang pertama IPA kemudian setelah istirahat pertama yaitu jam ke-4 dan ke-5 adalah Bahasa Indonesia, kemudian setelah istirahat kedua yaitu jam ke-6, ke-7 dan ke-8 adalah matematika.

Pelajaran IPA adalah pelajaran pertama pada hari itu, sebelum pelajaran tersebut dimulai anak-anak membaca doa yang dipimpin oleh ketua kelas. Kemudian setelah anak-anak membaca doa pelajaranpun berlangsung.

Bel dua kali tanda istirahat pertama berbunyi, saya mengakhiri pelajaran pertama pada hari itu, anak-anak keluar dari kelas untuk beristirahat, 15 menit kemudian waktu istirahat sudah selesai, bel berbunyi dua kali tanda masuk kelas dan pelajaran kedua akan dimulai.

Dua jam pelajaran untuk Bahasa Indonesia berlangsung dengan cepat, bel berbunyi dua kali tanda istirahat kedua, seperti istirahat pertama anak-anak kelas V menuju ke halaman untuk bermain dan sebagian membeli makanan sekedar mengisi perut yang lapar, 15 menit kemudian bel tanda masuk kelas berbunyi, anak-anak dengan langkah pelan menuju ke kelas masing-masing dengan muka kusam menandakan keletihan.

Sebelum saya mulai pelajaran matematika pelajaran terakhir pada hari itu saya membagi kelas menjadi 9 kelompok dimana masing-masing kelompok terdiri dari 4-5 anak. Materi yang akan saya sampaikan yaitu melanjutkan materi sebelumnya tentang menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan KPK dan FPB.

Anak-anak kurang begitu antusias dalam menerima pelajaran tersebut, sebab selain kondisi tubuh yang sudah capek, pelajaran matematika dianggap pelajaran yang sulit, apalagi soal cerita. Saya awali pelajaran tersebut dengan apersepsi, mengingat materi pertemuan sebelumnya. Saya perhatikan ada beberapa anak yang kecapekan meletakkan kepalanya di meja.

“Pada pertemuan sebelumnya p.guru menjelaskan tentang KPK dan FPB, anak-anak masih ingat cara menentukan KPK dan FPB menggunakan apa?” saya mengawali pelajaran matematika.

Beberapa anak menjawab dengan lantang “ingat……….”

“Coba kelompok 2 jelaskan bagaimana cara menentukan KPK dari beberapa bilangan?” lanjut saya merespon jawaban siswa.

Perwakilan kelompok 2 sekaligus yang ditunjuk sebagai ketua kelompoknya menjawab, “pertama menggunakan pohon faktor mencari faktorisasi primanya, untuk mencari KPK diambil semua faktor yang sama maupun tidak sama dari bilangan-bilangan itu, jika faktor yang sama diambil pangkat yang paling besar”.

“Bagus, jawaban kelompok 2 betul” saya menanggapi jawaban siswa. Kelompok 2 langsung bersorak kegembiraan.

Kemudian saya melanjutkan, “coba kelompok 7 jelaskan bagaimana cara menentukan FPB dari beberapa bilangan?”.

“Sama dengan cara menentukan KPK yaitu dengan  menggunakan pohon faktor mencari faktorisasi primanya, kemudian ambil faktor yang sama dari bilangan-bilangan itu dan ambil faktor yang paling kecil” demikian jawaban Uswatun mewakili kelompoknya.

“Bagus, jawaban kelompok 7 betul” saya menanggapi jawaban siswa. Kelompok 7 langsung bersorak kegembiraan.

Tiba saatnya siswa ditugaskan untuk menjawab soal cerita yang berkaitan dengan KPK dan FPB. Masing-masing kelompok mengambil kertas berisi soal cerita yang saya sediakan. Ada beberapa anak dalam kelompok tersebut langsung berkata, “duh ….. sulitnya aku tidak tahu”. Temannya menanggapi “jangan bilang tidak tahu sebelum di coba”.

Saya berkeliling ditiap kelompok sambil membimbing siswa dalam kelompok tersebut, saya perhatikan ternyata anak-anak masih banyak yang kesulitan mengerjakan soal cerita yang saya berikan. Padahal jika saya berikan soal yang sama tapi tidak menggunakan soal cerita kurang lebih  60% anak-anak bisa mengerjakan.

Saya merasa kecewa, awalnya saya mengira soal cerita yang saya berikan bisa dikerjakan, mengingat pada pertemuan sebelumnya anak-anak sudah bisa mengerjakan soal mencari KPK dan FPB.

Ketika pulang saya masih merasa risau bagaimana caranya agar anak bisa cepat memahami soal cerita tentang KPK dan FPB.

PUISI TETAP PUISI

Oleh : Kun Kholifah, S.Pd.

Pelajaran Bahasa Indonesia bisa dikatakan pelajaran yang gampang-gampang susah, karena itu saya kadang mengalami kesulitan untuk menanamkan konsep pembelajaran kelas VI. Pada saat mengajarkan parafrase kepada siswa, saya sempat khawatir apakah yang saya ajarkan nanti bisa betul-betul dipahami oleh siswa atau sebaliknya.

Pada malam harinya saya siapkan metode yang akan saya gunakan untuk pembelajaran tersebut, yaitu ceramah, tanya jawab, dan tugas. Kebetulan pelajaran Bahasa Indonesia jadwalnya hari senin. Seperti biasanya hari senin upacara bendera dilaksanakan, setelah selesai upacara bendera siswa masuk kelas dengan tertib, kemudian siswa berdoa, beri salam, dan absensi oleh guru. Selanjutnya memasuki pembeljaran Bahasa Indonesia diawali apersepsi tentang puisi.

” Anak-anak istilah bait-bait dan baris adalah ciri dari karangan yang berbentuk apa?” ada salah satu siswa yang menjawab, ”puisi bu” ”betul Sofi” karena Sofi yang yang menjawab saya beri penguatan. Kemudian saya tunjukkan kesiswa sebuah puisi pada tangan kanan dan sebuah cerita atau prosa pada tangan kiri saya. ”nah anak-anak kalau puisi terdiri dari bait-bait dan baris, tapi kalau prosa terdiri dari paragraf dan kalimat”.

Saya mulai mengajar anak-anak memasuki inti pelajaran dan saya jelaskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai yaitu parafrase atau mengubah puisi kedalam prosa/cerita dan saya lanjutkan tentang informasi tata cara atau langkah-langkah dari parafrase tersebut, yaitu pertama puisi dibaca berulang-ulang sampai kita temukan cerita, mengartikan kata-kata sulit dan sampai pada tahap terakhir menyusun puisi menjadi cerita atau prosa.

”Bagaimana anak-anak sekarang kalian sudah pahamtentang cara membuat parafrase?” tanya saya. ”Sudah bu” jawab sebagian anak. Coba yang lain, sambil agak ragu dan tak bersemangat sebagian siswa menjawab lagi, ”ya bu paham”. Kemudian saya lanjutkan, ”nah sekarang perhatikan semua ke papan tulis, kita coba bersama-sama membuat parafrasenya”. Saya tulis di papan tulis 4 baris penggalan puisi, kemudian saya bersama-sama siswa bertanya jawabuntuk memberi contoh mengubah penggalan puisi tersebut kedalam 4 kalimat cerita/prosa. Setelah selesai dan saya anggap sudah paham, kembali saya tanyakan kepada siswa, ”sudah mengerti anak-anak?”, anak-anak menjawab dengan tegas ” ya, mengerti bu … ” jawab anak-anak serempak.

“Kalau sudah paham, sekarang dibuka LKS kalian pada halaman 374, ada sebuah puisi yang berjudul pahlawan, sekarang tugas kalian memparafrase puisi tersebut. Pada puisi tersebut ada 4 bait puisi, berarti nanti menjadi 4 paragraf prosa”.

Setelah saya anggap semua siswa sudah paham dan mengerti tentang tugasnya, sambil berkeliling saya mengamati siswa. Ada yang langsung mengerjakan tugas, tapi ada yang masih kelihatan bingung. Pelajaran hampir selesai, saya minta pada siswa pekerjaannya segera dikumpulkan. Siswa menjawab dengan lantang ”belum bu” jawab beberapa anak, kemudian saya beri perpanjangan waktu 3 menit lagi.

Setelah perpanjangan waktu, pekerjaan siswa belum terkumpul semua. Kemudian apa yang terjadi saya sangat kaget dibuatnya. Dari 33 siswa kelas VI hanya 15 anak yang mengerjakan tugas sesuai petunjuk, selebihnya tetap dari puisi menjadi puisi, bukan puisi menjadi prosa.

Kecewa, sedih, marah menjadi satu, dengan seribu tanda tanya apa yang membuat anak-anak tidak bisa mengerti cara membuat parafrase. Padahal menurut saya segala usaha sudah saya lakukan. Tetapi hasilnya sangat mengecewakan. Sampai terdengar bel berbunyi tanda istirahat dan akhirnya anak-anak saya persilahkan untuk istirahat.

MENGAPA TIDAK PAHAM??

Oleh : Widiyah Purwanti, S.Pd.

Bagi siswa yang tidak suka menghafal pastilah pelajaran IPS sangat membosankan dan menjemukan, padahal yang dipelajari dalam mata pelajaran ini cukup luas karena dalam pelajaran IPS mencakup banyak hal antara lain sejarah, geografi, permasalahan yang selalu berkembang seperti perkembangan sosial. Namun sebagai guru saya wajib memberikan pengajaran dengan berbagai metode mengajar saya terapkan agar diperoleh hasil yang maksimal sehingga membuat anak didik saya mampu menangkap pelajaran ini dengan baik hingga mereka bersemangat dan termotivasi untuk menyenangi pelajaran IPS.

Tak urung saya juga mengalami kesulitan dalam hal mengajar para siswa dengan kompetensi dasar: membaca peta lingkungan setempat (kabupaten/kota, provinsi) dengan menggunakan skala sederhana. Salah satu penyebabnya adalah banyak siswa yang kurang bisa membaca peta beserta simbol-simbol didalamnya. Hal ini terjadi karena banyak siswa yang tidak mempunyai atlas dan terbatasnya peta yang dimiliki oleh sekolah sebagai media pembelajaran sehingga pemahaman siswa terhadap peta sangatlah kurang.

Sebelum melakukan pembelajaran kompetensi dasar : membaca peta lingkungan setempat (kabupaten/kota, provinsi) dengan menggunakan skala sederhana, saya telah membuat persiapan yang maksimal antara lain menyusun RPP, beberapa buku atlas, LKS dan peta serta sumber belajar pendukung lainnya.

Setelah bel istirahat pertama pelaksanaan pembelajaranpun berlangsung kembali, untuk melanjutkan semangat belajar para siswa sebelum memulai pelajaran, saya mengajak mereka untuk menyanyikan lagu ”dari Sabang sampai Merauke”. Setelah menyanyikan lagu tersebut saya memberikan pertanyaan pengantar (apersepsi) untuk menuju materi yang akan saya terangkan seperti dari lagu tadi menggambarkan wilayah Indonesia yang sangat luas yang terdiri dari pulau-pulau mulai Sabang sampai Merauke, ”taukah kalian bagaimana cara kita melihat keseluruhan pulau-pulau tersebut?” saya mengawali pertanyaan. Ternyata hampir sebagian siswa mengacungkan tangannya, kemudian saya tunjuk salah satu dari mereka untuk menjawab.

”baik apa Ayu jawabannya?” tanya saya.

”dengan melihat dari atas udara dan dari peta, bu”, jawab Ayu.

”benar sekali jawabanmu Ayu” kemudian saya membuka peta yang telah saya bawa tadi untuk digantung di depan kelas menunjukkan betapa luasnya wilayah Indonesia sebagaimana yang tersirat dalam lagu ”dari Sabang sampai Merauke” yang terbentang mulai dari timur yaitu pulau Papua sampai ke Barat pulau Sumatera dengan paling ujung yaitu Nangroe Aceh Darussalam.

Setelah itu saya memasuki pembelajaran inti. Metode yang saya gunakan adalah memberikan informasi (ceramah) kepada para siswa dengan menerangkan peta yang telah saya pasang di depan kelas mengenai simbol-simbol yang tertera didalam legenda peta, batas wilayah suatu daerah, serta letak lintang dan bujurnya, agar tidak membosankan saya meminta para siswa secara acak untuk menyebutkan nama-nama daerah didalam peta, apa saja yang membatasi suatu wilayah yang saya tunjuk serta arti simbol yang tertera di dalam peta.

Selanjutnya anak-anak saya minta berkelompok dan berdiskusi dengan menggunakan LKS dan atlas yang saya siapkan. Para siswa saya minta untuk mencermati peta buta yang ada dalam LKS untuk mengisi dengan nama-nama daerah serta menjelaskan arti simbol-simbol yang tertera dengan bantuan atlas yang telah saya siapkan. Kemudian saya coba berkeliling untuk mengetahui seberapa pemahaman mereka terhadap materi yang saya berikan. Saya menanyakan apakah mereka sudah selesai memberikan nama-nama daerah serta telah mengisi legenda dengan lengkap. Hasilnya belum satupun nama-nama wilayah mereka tuliskan dalam peta buta di LKS tersebut.

”kenapa belum dikerjakan nak?” tanya saya penasaran ingin tahu penyebabnya kepada Wahyu salah satu dari anak didik saya.

Ternyata mereka kebingungan dalam mengartikan simbol-simbol seperti di atlas yang telah saya sediakan untuk tiap kelompok. Akhirnya saya mencoba menjelaskan kembali mengenai arti simbol-simbol yang ada dalam atlas seperti simbol lingkaran menunjukkan kota, segitiga menunjukkan gunung berapi, garis lurus vertikal menunjukkan jalan serta gambar pesawat menunjukkan bandara. Ketika penjelasan saya selesai kemudian saya bertanya kepada anak-anak.

”anak-anak siapa yang belum jelas dan belum mengerti boleh bertanya kepada bu guru. Ayo siapa yang mau bertanya agar nanti tidak kesulitan dalam mengerjakan tugas peta selanjutnya?” sejenak suara hening tidak satupun siswa yang ingin bertanya. ”Saya anggap kalian bisa karena tidak ada yang bertanya, silahkan lanjutkan tugas kalian” saya melanjutkan.

Setelah 10 menit berlalu saya beranjak dari tempat duduk saya untuk mengecek pekerjaan murid-murid. Saya mulai berkeliling dari satu kelompok ke kelompok lainnya, ternyata hampir seluruh kelompok yang hanya menyelesaikan kurang dari seperempat saja, dalam hati saya bingung dan bertanya apakah mereka belum paham dengan penjelasan saya. Karena saya ingin tahu maka saya tanyakan hal ini.

“anak-anak ibu telah melihat pekerjaan kalian tapi hampi semua kelompok yang pengerjaannya kurang dari seperempat, apakah kalian belum paham?”

“belum bu…..” jawaban serempak mereka terdengar membuat saya terkesima.

“kenapa tadi waktu bu guru tanya apakah kalian sudah mengerti dan paham, tidak satupun yang bertanya malah diam saja?” lanjut saya.

Suasana tetap hening, tak ada satupun siswa yang berani mengacungkan tangan untuk bertanya, bersamaan itu pula bel yang menunjukkan bahwa jam pelajaran ini telah usai, namun sebelum saya pergi meninggalkan kelas saya tetap memberikan penguatan kepada anak-anak hingga kesimpulan. “baiklah untuk minggu yang akan datang kita bahas kembali masalah ini lebih mendalam”. Setelah itu saya mengucapkan salam.

Dengan perasaan kecewa dan sedih saya tinggalkan kelas sambil menyimpan sejuta pertanyaan kenapa anak-anak belum bisa memahami materi yang saya jelaskan.

TAKUT, TERDIAM, TERCENGANG, DAN TERLUPAKAN

Oleh : Hendra Tri Yulianto

Pembelajaran Matematika Sekolah Dasar pada umumnya di desa sangat di takuti bagi para peserta didik, karena mata pelajaran matematika berhubungan dengan menghitung. Bagi anak yang suka dengan berhitung dapat mengikuti mata pelajaran dengan baik, akan tetapi bagi anak yang tidak suka menghitung mata pelajaran matematika akan mudah terlupakan dan tidak dapat mengikuti secara aktif pembelajaran berikutnya. Dengan demikian kita sebagai para pendidik atau guru hendaknya dapat menghapus pola berfikir peserta didik dengan lebih baik yaitu dengan menggunakan berbagai metode yang bervariasi.

Dari uraian di atas pengalaman saya pada saat akan membelajarkan kompetensi dasar : Memahami pecahan dan menggunakannya dalam pemecahan masalah, dengan media papan hitam dan media ketas saya mendapatkan kesulitan dalam menyampaikan materi walaupun saya sudah gambar secara benar di papan tulis, namun sayangnya peserta didik tidak dapat mengaplikasikan dengan objek yang sesungguhnya.

Sebelum materi pembelajaran di sampaikan kepada peserta didik dengan kompetensi dasar : memahami pecahan dan menggunakan dalam pemecahan masalah, saya membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ( RPP) dan menyiapkan persiapan seperti : LKS, dan bahan lainnya sebagai pendukung pembelajaran lainnya.

Pada hari senin setelah upacara adalah jadwal matematika kelas III. Upacara telah dilaksanakan dengan baik dan dibubarkan oleh petugas upacara, anak diberi istirahat sejenak lima menit sebagai pelepas lelah. Bel tanda masuk berbunyi, peserta didik berbaris didepan kelas masing-masing dan segera masuk ke dalam kelas untuk mngikuti pelajaran. Saya berjalan menuju kelas III, dengan melihat peserta didik yang berbeda ada yang lelah dan ada yang segar pula, dan hl itu membuat saya lebih bersemangat untuk memberikan materi pelajaran. Ketua kelas menyiapkan teman-temannya untuk berdoa, setelah berdoa saya mengucapkan salam dan mengabsen siswa. Ketika saya membuka pelajaran ada salah satu siswa bertanya ”pak guru sekarang pelajaran apa?” saya menjawab ”sekarang hari senin anak-anak jadi pelajarannya adalah matematika, tiba-tiba setelah mendengar kata matematika wajah anak-anak tidak satupun terlihat bersemangat, semua murung. Saya mencoba merubah wajah anak-anak yang murung itu dengan nyanyian. Dengan tujuan membuat anak-anak bersemangat belajar.

Sebelum pelajaran matematika dilaksanakan, saya bercerita sebagai kegiatan apersepsi. Anak-anak tadi pagi sebelum tiba disekolah pak guru menemukan dua anak yang sedang bertengkar, karena berebut sebuah jeruk yang diberikan oleh ibunya. Pak guru menghampiri mereka berdua dan melerainya, kemudian jeruk yang tadinya satu buah pak guru potong menjadi dua bagian yang sama besar setengah bagian dari semula, setelah memotong buah jeruk tadi pak guru memberikan kembali kepada kedua anak tersebut, akhirnya mereka berhenti bertengkar karena jeruk yang didapatkan kembali sama besar, jadi terlihat adil. Nah siapa yang mengerti dan mengetahui sekarang pak guru akan mengajarkan materi apa? Angkat tangannya tunjukan jari kepada pak guru yang bisa menjawab!…Beberapa siswa ada yang menunjukkan jari, kemudian saya menyuruh salah satu anak untuk menjawab.”Ayo Arif apa jawabannya?” Tanya saya ”pembagian pak guru!…” jawab Arif, jawaban mu sudah bagus Arif, akan tetapi kurang tepat. Kemudian saya gambarkan pada papan tulis separti contoh sebagai berikut :

Saya memberikan pertanyaan kembali kepada anak-anak, siapa yang bisa membenarkan jawaban dari Arif?… saya menunjuk salah satu dari anak yang mengangkat jarinya untuk menjawab pertanyaan.’coba Devi apa jawabannya?…” ”pecahan pak guru”, jawab Devi”pintar,benar sekali jawabanmu”. Begitu saya ucapkan kepada Devi sebagai kata penguatyang diberikan.saya memberikan contoh-contoh yang lain kepada anak-anak.

Setelah itu saya menginjak pada kegiatan inti.Metode yang saya gunakan adalah ceramah (informasi), demontrasi ”menggunakan kertas,” dan tanya jawab. Saya menjelaskan pecahan menggunakan media kertas dan papan tulis mulai dari pecahan yang terkecil sampai materi selesai. Ketika penjelasan saya selesai, saya bertanya kepada anak-anak ”anak-anak, siapa yang jelas pada materi ini?…” semuanya terdiam…………………………………………………………………….

Selanjutnya karena anak-anak tidak ada yang bertanya saya membagi soal dari LKS yang saya buat untuk dikerjakan. Saya memperhatikan anak-anak satu per satu-satu. ”Ayo dikerjakan kenapa hanya dilihat saja soal itu?” saya bertanya kepada anak-anak, karena satu soal pun belum diselesaikan ”Ayo Arif dicoba!… Jangan hanya dilihat soalnya”. Wajah anak-anak terlihat takut, terdiam, tercengang. Saya bertanya kembali pada anak-anak ”tadi pak guru telah memberikan contohnya sekarang coba ingat”, apa sudah lupa? ”yaaa…… jawab anak-anak serentak, walaupun ada beberapa anak yang bisa mengerjakan. Kenapa kalian sudah melupakan materi yang baru saya jelaskan?… Arif menjawab ”Tadi pada waktu pak guru menjelaskan memotong kertasnya terlalu cepat, jadi saya buat pesawat terbang kertasnya”, kemudan teman-teman yang lain juga bermain lempar-lemparan pak guru!………………………

Pak guru tadi memotong kertas dengan pelan-pelan!…. ”pak guru, kata Faris ketua kelas di kelas III, teman-teman banyak yang tidak membawa alat pemotong jadi masih menunggu pada teman yang membawa alat pemotong, sehingga banyak tertinggal dengan penjelasan pak guru”.

Dengan rasa bersalah saya menundukkan kepala sambil berpikir?…?…?… mengingat-ingat apa yang telah saya lakukan membuat anak-anak lebih cepat melupakan materi yang telah saya berikan. Bel sudah terdengar tanda istirahat, saya tetap merenungkan hal tersebut!… Pak … Pak guru… Pak…guru apakah kita boleh istirahat?” Tanya salah satu siswa. Tunggu dulu sebentar, dengan rasa kecewa saya menutup pelajaran, ”baik anak-anak materi ini kita bahas lagi dipertemuan yang akan datang. Kata salam mengakhiri pelajaran, dan anak-anak istirahat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: